Satu-satunya di GKJW: Panti Asuhan Bethesda bagi Anak Papa

Panti Asuhan Bethesda Tulungagung sudah 41 tahun menyelenggarakan pelayanan terhadap para anak papa yaitu anak-anak dari keluarga di bawah garis kemiskinan dan keluarga berantakan (broken home) akibat masalah ekonomi, terkena pemutusan hubungan kerja dan masalah lain.

Panti asuhan (PA) ini satu-satunya di lingkungan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang terdiri atas 154 jemaat gereja Jawa di Jawa Timur dengan 138.000 warga. Beberapa Majelis Jemaat memprogramkan kunjungan ke PA Bethesda.

Yang berkunjung dan mengadakan kebaktian serta bakti sosial di sana dalam rangka Natal dan Tahun Baru, antara lain sejumlah warga Jemaat Sukun (Malang), Kertosono, Karangploso (Malang) dan pemuda Jemaat Mojokerto.

Setiap bulan yayasan harus menutup kebutuhan dana bagi 30 anak asuh (TK 2, SD 8, SMP 6, SMK 7, mahasiswa PT 4 di Yogya, Malang dan Tulungagung) beserta 2 pengasuhnya dan seorang pembantu rumah tangga panti. Kebutuhan setiap bulan rata-rata Rp 7 juta. Donatur tetap hanya Yayasan Dharmais, Jakarta.

Juli, Agustus dan Desember biasanya terjadi pembengkakan pengeluaran dana untuk sekolah dengan berbagai pungutan termasuk wajib beli buku pelajaran dan lembar kerja siswa (LKS). Desember juga perlu dana untuk perayaan Natal serta Tahun Baru.

World Vision International (WVI) yang bertahun-tahun menjadi penyandang dana, sejak 2003 tidak lagi mensuplai bantuan karena dana mereka dialihkan ke Indonesia bagian timur. Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) Jakarta masih membantu sampai sekarang sejumlah Rp 1.250.000/bulan untuk bantuan pangan 25 anak @ Rp 50.000. Sesekali ada bantuan dari Departemen Sosial. Bantuan terbanyak dari para donatur yang datang tak terduga.

Sejak didirikan oleh GKJW dan diresmikan Penjabat Bupati Tulungagung, R. Soendarto, dalam rangkaian perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 1967, Panti Asuhan Bethesda berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah yang lain sampai mempunyai rumah sendiri yang mulai ditempati awal 1986.

Pdt. Soedarman (almarhum, berpulang 1982 dalam usia 58 tahun) sebagai pendeta GKJW di Jemaat Tulungagung yang memprakarsai pendirian panti, terpanggil ikut memecahkan masalah sosial waktu itu berupa banyaknya anak-anak telantar akibat peristiwa G30S/PKI tahun 1965.

Gagasan Pdt. Soedarman diwujudkan pertama kali di Trenggalek (30 km sebelah barat Tulungagung) dengan membuka Panti Asuhan GKJW di sana pada 1 September 1966. Pada waktu itu kelompok warga GKJW di Trenggalek merupakan bagian dari GKJW Jemaat Tulungagung. Karena Panti Asuhan Trenggalek kurang menggembirakan perkembangannya, ada gagasan memindahkan ke Tulungagung.

Bethesda adalah tempat pemandian di Yerusalem yang mempunyai lima serambi cukup luas. (Yoh.5:2, dst.) Istilah ini bentuk Yunani dari kata Aram bet hesda berarti rumah belas kasihan. Ada yang menyebut bet ‘esyda yang berarti rumah pancuran. (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, 1992)

Dari Jalan Diponegoro Tulungagung, panti pindah ke Kampungdalem. Dari situ kemudian panti boyong ke Kelurahan Bago menempati rumah keluarga Anwar yang tinggal di Cimahi, Jawa Barat.

Kepindahan yang terakhir ini terjadi 1977 saat Panti Asuhan Bethesda nyaris dibubarkan, karena kehabisan dana. Pdt. Soedarman yang menjadi ketua pengurus panti, melalui wartawan di Tulungagung membeberkan kisah sedih ini di Harian Umum Sinar Harapan Jakarta. Sambutan pembacanya sungguh luar biasa dan di luar dugaan.

Keluarga Anwar yang muslim, menyerahkan rumahnya di Bago untuk dikontrakkan dengan tarif khusus selama 10 tahun sampai dengan 1987. Saat itu bantuan dari para dermawan seluruh tanah air, terus mengalir.

Sementara itu meskipun di Sinar Harapan ditulis lagi bahwa panti asuhan satu-satunya di kota Tulungagung ini tidak jadi gulung tikar, bantuan masih terus mengalir. Bahkan dari Irian Jaya dan juga dari dermawan muslim serta agama lain.

Ketika kehidupan anak-anak dalam panti normal, kesehatan Pdt. Soedarman justru tidak normal. Dia sering sakit sampai akhirnya dokter meminta agar pendeta yang berdedikasi tinggi ini beristirahat total karena hepatitis. Ini terjadi mulai 1979.

Sesuai anjuran Majelis Agung (Sinode) GKJW agar pelayanan social ditangani pengurus yang terpisah dari kepengurusan gereja, dibentuklah Yayasan Bethesda dengan Akta Notaris di Kediri No. 19 pada 17 Agustus 1980. Pendiri Yayasan adalah Pdt. Soedarman, M. Harjono Dwidjokoesoemo, Ny. Soegijati Soerana, Sumilan, Sumadi, Sri Sumani, Suleman Hadi, Koesdarjono, Suwoto, Suharsono, Wardhani Tjiptowardono, Moeljosoeseno, Mulyani, Pudji Krisanto, dan M. Tasahoedi.

Dari dana yang masih terus mengalir dari para dermawan, secara bertahap pembangunan asrama di atas tanah milik GKJW muali April 1982, dilaksanakan. Namun sebulan setelah meletakkan batu pertama, Pdt. Soedarman dipanggil Bapa pulang ke rumah-Nya.

Pembangunan berlanjut. Empat tahun setelah peletakan batu pertama, asrama bisa ditempati anak-anak. Pembangunan asrama berukuran 9 m x 25 m menghabiskan dana Rp. 75 juta lebih saat itu.

Aneka Mukjizat
Panti Asuhan BethesdaDalam menapaki sejarahnya, keluarga Panti Asuhan Bethesda merasakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang benar-benar hidup. Tuhan yang berkarya. Tuhan yang baik kepada semua orang, juga kepada anak-anak Panti Asuhan Bethesda. Kebutuhan panti asuhan dipenuhi-Nya. Bahkan melimpah!

Sebagian limpahannya diteruskan kepada para tetangga di Kelurahan Kenayan dalam bentuk bakti sosial kesehatan dan kegiatan bersama masyarakat sekitar untuk menandai HUT Panti Asuhan Bethesda sekaligus merayakan HUT kemerdekaan RI. Aula panti juga menjadi tempat kegiatan warga RT dan RW setempat, antara lain sebagai tempat pemungutan suara saat pemilihan umum.

Lepki yang kemudian digantikan WVII dan Yayasan Dharmais adalah penyandang dana tetap panti asuhan selama bertahun-tahun. Mulai Oktober 2003, tinggal Yayasan Dharmais dan Yayasan Manna Bandung, Jawa Barat, yang mengirimkan bantuan rutin selain terkadang dari Pemerintah.

Yayasan harus berusaha menggali potensi di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan GKJW dan gereja-gereja lain. Kebutuhan rutin sebulan tahun 2008 rata-rata Rp 7 juta, sedang bantuan rutin hanya sekitar Rp 1,5 juta.

Sebagai manusia, tentu terkadang pengurus Yayasan menampilkan wajah pesimis. Namun iman mereka cukup kuat bahwa Tuhan tidak akan berlepas tangan. “Mintalah, maka kalian akan menerima. Carilah, maka kalian akan mendapat. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu,” bunyi firman dalam Injil Matius 7:7 yang menyemangati para pengurus, pendiri yayasan, dan dewan penyantun.

Kejadian di luar logika sering terjadi di Panti Asuhan Bethesda. Tatkala pengurus membutuhkan sesuatu untuk kepentingan anak-anak sementara uang di kas tiada untuk itu, datanglah orang membawa dana sejumlah yang dibutuhkan. Langka tapi nyata!

Awal 1986 menjelang penghuni Panti Asuhan Bethesda boyong ke asrama baru yang dibangun Yayasan selama empat tahun di Kenayan, listrik PLN belum bisa menyala. Instalasi sudah terpasang, tinggal menyambung dengan kabel ke tiang listrik di tepi jalan (gang) depan asrama. Namun karena Yayasan belum menyetorkan uang Rp. 400.000 ke PLN, penyambungan tidak bisa dilakukan.

Esoknya panti ketamuan utusan panitia perayaan Natal dan Tahun Baru dari Kediri, 30 km utara Kota Tulungagung. Mereka menyerahkan bantuan yang terkumpul dari peserta perayaan. Jumlahnya? Tepat empat ratus ribu rupiah. Yang mengagumkan, uang itu dari panitia perayaan Natal dan Tahun Baru keluarga Kristiani PLN se-eks Karesidenan Kediri. Benar-benar suatu mukjizat!

Suatu saat televisi hitam-putih panti sudah sering rewel. Padahal anak-anak memerlukan hiburan seusai belajar atau pada malam Minggu dan Minggu siang. Rapat Yayasan memutuskan, dikeluarkan Rp 375.000,00 untuk membeli pesawat televisi berwarna 14 inci.

Seminggu setelah pembelian televisi, panti ketamuan para pemuda dan mahasiswa GKJW Surabaya. Mereka mengadakan kebaktian bersama anak-anak.. Terkumpul persembahan yang diserahkan kepada PA. Jumlahnya Rp. 380.000,00, lebih sedikit dari uang yang dikeluarkan Yayasan untuk pembelian pesawat televisi berwarna.

Salah satu berkat besar yang diterima panti asuhan ini adalah mengantarkan seorang anak asuhnya, Kristanto, lulus sarjana teologi strata I, Fakultas Theologia, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogya.
Saat ini Kristanto menjadi vikar (calon pendeta) di GKJW Jemaat Rungkut, Surabaya setelah enam bulan di Jemaat Pare, Kediri. Ia akan disusul Agus Supriyono, juga anak PA Bethesda, yang saat ini duduk di semeseter VIII Fakultas Theologia. UKDW.

Foto: Panti Asuhan Bethesda

Kata Kunci Artikel Ini: