Jerobeam Mattheus, Tokoh GKJW di Masa Kebangkitan Nasional

J.Mattheus JrPada masa sebelum kemerdekaan Indonesia, orang-orang Kristen seringkali dianggap bagian dari penjajah Belanda. Anggapan tersebut melahirkan keraguan terhadap andil orang kristen dalam ikut serta mendorong terwujudnya kemerdekaan. Padahal sejak dasawarsa pertama abad ke-20, gerakan menuju kemerdekaan Indonesia telah dilakukan orang-orang Kristen seperti misalnya G.S Ratulangi, Amir Sjarifuddin, T.S Gunung Mulia, A.A Maramis, J. Latuharhary[1]. Tokoh pergerakan yang juga layak disebut dari kalangan GKJW adalah Jerobeam Mattheus.

Berbeda dengan tokoh-tokoh pergerakan Kristen yang lain di masa itu, yang kebanyakan bergerak di lingkungan perkumpulan yang berdasarkan nasionalisme dan sosialisme, Jerobeam Mattheus memulai partisipasinya dari lingkungan pergerakan yang berbasis Islam.[2]

Jerobeam Mattheus, adalah putra dari  Mattheus Matdakim, seorang Guru Injil, tokoh Kristen terkemuka di Surabaya. Sejak awal ia memang tidak hanya aktif dalam urusan keagamaan, namun juga memimpin organisasi yang mengusahakan pelayanan-pelayanan sosial.[3]

Ia pernah menjadi anggota Jong Java, namun selanjutnya mengundurkan diri karena organisasi tersebut pada kelanjutannya membatasi keanggotaan hanya untuk kaum muda Muslim saja. Namun kedekatannya dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam, memberinya banyak kesempatan untuk lebih jauh bergaul dengan saudara-saudara pergerakan dari kalangan muslim di Jawa Timur. Ia pernah diundang untuk memberikan ceramah pada pertemuan kelompok Tjokroaminoto tersebut  dan bahkan menjadi redaktur  koran “Bintang Soerabaya” asuhan Tjokroaminoto pada tahun 1913-1921.[4]

Kegiatannya di bidang politik dan hubungan akrabnya dengan gerakan organisasi Islam dan kebangsaan memberikan pengaruh besar pada diri Jerobeam Mattheus. Ia menegaskan dirinya sebagai orang yang sangat memikirkan kehidupan beragama dalam konteks yang lebih luas. Banyak pemimpin-pemimpin Kristen di Jawa Timur yang juga merespon semangat pergerakan di masa itu. Oleh karenanya, Jerobeam Mattheus sering diminta untuk membagikan pengalaman dan pemikiran-pemikirannya ke jemaat-jemaat Kristen di pedesaan.

Debut besar Jerobeam Mattheus adalah ketika ia membidani re-organisasi Rencono Budijo di tahun 1909, sebuah perkumpulan orang-orang Kristen di Mojowarno yang telah ada sejak tahun 1898. Kegiatan Rencono Budijo pada masa itu adalah pendalaman  Alkitab dan ajaran Kristen. Sebagai ketua dari Rencono Budijo, ia menjadikan organisasi tersebut lebih modern dan keluar dari isolasi lingkungan pedesaaan. Pada tahun 1912, Rencono Budijo, diubah dan diperluas menjadi sebuah organisasi yang bergerak juga di bidang politik dengan nama Mardi Pracoyo.[5]

Dalam pidato peresmian Mardi Pracoyo pada Hari Raya Pentakosta 1913, Jerobeam Mattheus berbicara mengenai kerukunan dan kerjasama, baik dengan penganut agama lain maupun di kalangan orang Kristen, demi kemajuan bersama. Aritonang, mengutip Hoekema, menuliskan kalimat tegas Jerobeam Mattheus: “kalau orang kristen tidak menunjukkan kerukunan di antara mereka, maka mereka tidak dapat memberi sumbangan pada persatuan dan kesatuan bangsanya.“[6]

Tanggal 20 Mei 1918, Mardi Pracoyo berkembang menjadi sebuah partai politik. Namanya diganti menjadi Perserikatan Kaum Christen (PKC).)[7] PKC mengisyaratkan sebuah perkumpulan gerakan politik Kristen yang lebih luas. Di dalam kepengurusannnya tergabung juga orang-orang Kristen dari Jawa Tengah. Jerobeam Mattheus tetap duduk dalam kepengurusan sebagai sekretaris dan Poertjojo Gadroen, salah satu tokoh GKJW, menjadi ketua PKC.[8]

Lambat-laun  PKC mengalami kemunduran dan kegiatan di bidang politik menjadi sangat lemah. Kegagalan-kegagalan dalam bidang organisasi tersebut menjadikan frustrasi di kalangan elit jemaat dan menimbulkan potensi perpecahan dalam komunitas. Situasi ini tidak hanya mempengaruhi jemaat, tetapi juga menimbulkan konfrontasi antara badan misi dengan komunitas Kristen Jawa.

Karena situasi tersebut, tokoh-tokoh dari badan misi mencoba mencarikan jalan keluar dengan beberapa langkah strategis. Yang pertama adalah pemberian otonomi untuk jemaat Mojowarno pada tahun 1923. Yang ke-dua, atas saran Dr. Hendrik Kraemer, didirikan sebuah komite yang terdiri dari pemimpin-pemimpin yang dipercaya, dengan saran tidak boleh lagi menghidupkan Mardi Pracoyo ataupun PKC sebagai partai politik. Komite ini dinamakan Komite Pitoyo dengan ketua, Dr. Ismael, sedang Poertjojo Gadroen, Wiryodarmo, R.J. Prawirotenoyo, M Puger, Driyo Mestoko dan Jerobeam Mattheus merupakan anggota komite.

Komite Pitoyo ini berdiri di luar jemaat. Artinya komite bisa memberikan nasihat, tetapi tidak mengikat bagi jemaat dan jemaat tidak dilibatkan langsung didalamnya. Melalui komite ini, fokus perhatian diarahkan pada persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat kristen sebagai bagian dari masyarakat dan bukan lagi persoalan-persoalan politik praktis. [9]

Komite Pitoyo mengadakan pertemuan-pertemuan rutin dalam bentuk retreat. Dalam sebuah retreat Komite Pitoyo, Jerobeam Mattheus menyampaikan makalah sebanyak 16 halaman tentang Bangsa lan Agami (Bangsa dan Agama).[10]

Dalam makalahnya, Mattheus mengemukakan beberapa tema dengan kritikan-kritikan soal ketertinggalan orang kristen dalam bergerak untuk kemajuan. Ia memandang pentingnya orang-orang Kristen Jawa merasa setara dengan saudara-saudara dari berbagai etnis dan bangsa. Kekristenan bersifat membebaskan sehingga semestinya tidak membuat orang-orang Kristen Jawa merasa inferior.

Kritikannya dilandasi oleh fakta bahwa badan misi telah membuat sistem yang memungkinkan bagi orang Kristen dari berbagai etnis dan daerah untuk berdialog melalui pendidikan bersama di suatu tempat di jawa. Namun sistem tersebut tidak pernah memproduksi gerakan Kristen Jawa yang independen karena orang jawa cenderung untuk melanjutkan dan bergantung pada missionaris sebagai perantara. Ia menulis : „Orang Kristen Ambon dan Kristen Manado beranggapan bahwa orang Kristen Jawa ada di bawah tingkatan mereka, karena orang-orang Kristen di Jawa tidak merasa dirinya setara dengan orang Belanda, sedangkan orang-orang Kristen Manado dan Ambon merasa sejajar dengan orang Belanda; hanya warna kulit mereka saja yang berbeda. Kekristenanlah yang membuat mereka sejajar, bukan identitas etnis mereka. Dalam hubungan tersebut orang-orang Kristen Jawa percaya bahwa mereka masih berada di bawah orang Belanda, sehingga mereka sungguh merasa rendah diri. Dan karena itu pula, kami orang-orang Kristen Jawa selalu disebut „Kristen ikut-ikutan“”.

Selain kritikan terhadap kekurangmandirian orang Kristen Jawa pada masa itu, Jerobeam Mattheus mengajukan sebuah konsep yaitu siwering kawilujengan (sphere of salvation/lingkup-an cahaya keselamatan) berkaitan dengan tema bagaimana orang kristen berhubungan dengan orang lain agama dan lain bangsa. Dia menegaskan: „ Semua orang, baik mereka yang sudah dipilih dan percaya di dalam  Tuhan ataupun mereka yang masih belum percaya, telah memasuki rancangan (cetak biru)  keselamatan Allah. Oleh karenanya, hidup manusia saat ini, suka atau tidak suka, dipaksa untuk memanfaatkan sarana-sarana keselamatan. Ini merupakan bukti yang paling nyata bahwa  panggilan Allah kepada manusia telah terjadi, dan “siwering kawilujengan”…sudah dilihat oleh semua orang.“

Dalam pemikirannya, Jerobeam Mattheus melihat orang-orang Kristen sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa yang harus berjuang untuk kehidupan dan kemajuan bersama. Ia juga mendorong kesetaraan, sebuah sikap yang penting dikembangkan untuk bebas dari segala macam bentuk penjajahan. Yang tak kalah menarik adalah teologi-nya. Ia meyakini bahwa rancangan keselamatan Allah berlaku untuk semua orang, baik orang yang telah percaya dan dipilih, maupun yang belum percaya.

Ketika Jepang datang dan melakukan pendudukan, Jerobeam Mattheus melayani jemaat Kristen di Malang. Pada masa itu ia juga masih aktif menyuarakan kritikan-kritikan dan masukan-masukan bagi GKJW. Namun ia menjadi salah satu pendeta GKJW yang meninggal dalam tahanan pada masa pendudukan Jepang, suatu masa berat yang pernah dialami oleh GKJW.[11]

Pada masa kini, sumbangan pemikiran teologi dan kebangsaan Jerobeam Mattheus ini layak untuk dielaborasi lebih jauh. Ia menjadi inspirasi agar orang-orang Kristen terus ikut ambil bagian dalam tanggung jawab terhadap  gereja, bangsa dan negaranya.

[1] Lihat , Th. Van den End dan J. Weitjens, Ragi Carita 2-Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an – sekarang, BPK Gunung Mulia, 1993, 395-408.

[2] Ibid., 402

[3] Th. Sumarthana, Mission at The Crossroads, Indigeneous Churches, European Missionaries, Islamic Association and Socio-Religious Change in Java 1812-1936, BPK Gunung Mulia, 1993, 121

[4] Lihat C.W Nortier, Van Zendingsarbeid tot Zelfstandige Kerk in Oost-Java, Hoenderloo, 1939,162-165

[5] Sumarthana, op.cit.,124-127

[6] Lihat Jan Sihar Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2004, 191.

[7] PKC ini muncul, selain karena kuatnya tantangan dari organisasi di luar Kristen, juga karena adanya kelompok baru bernama Mardi Pirukunan.  Kelompok ini merupakan kelompok yang tidak ingin mengikuti  Mardi Pracoyo yang berpolitik, lihat  Sumarthana, op.cit., 128-129.

[8] Sumarthana, op.cit., 123-136

[9] Ibid., 139

[10] Pemikiran-pemikiran para pembicara dalam retreat Komite Pitoyo dikumpulkan dalam  buku berjudul : “Pemutanipun Kekuwu ing Redi Kuncung (Kenang-kenangan Kamp di Gunung Kuncung), Mojokerto, 1925, lihat  Ibid., 149-150

[11] Pada masa pendudukan Jepang, GKJW mengalami goncangan yang berat akibat tekanan penjajah Jepang dan  perpecahan dari dalam. Banyak pendeta GKJW yang terseret ke dalam perpecahan tersebut, tidak terkecuali Jerobeam Mattheus. Namun pada bulan Desember 1945, semua elemen di GKJW melakukan rekonsiliasi. Untuk mensyukuri penyertaan kasih Tuhan di masa berat tersebut,  setiap tahun pada bulan Agustus diadakan Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW, dicatat dalam Ismanoe Mestoko, Greja Kristen Jawi Wetan di Jaman Pendudukan Jepang, dokumen tidak dipublikasikan.

Kata Kunci Artikel Ini: