Natal: Atraksi atau Kontemplasi ?

NATAL: ATRAKSI ATAUKAH KONTEMPLASI?

Persiapan Perjamuan Kudus Masa Advent 2010*
Bacaan, Lukas 2: 15- 19

1. Dunia kita adalah dunia yang sibuk, hiruk-pikuk, bising. Ini bukan hanya soal suara tetapi menyangkut sebagian besar sisi hidup sehari-hari. Mulut kita selalu ingin berkata-kata bahkan juga ketika keadaan mengharuskan diam. Ada saja yang dijadikan bahan untuk berkata-kata.

2. Dunia kita adalah dunia pencitraan, label, kulit. Setiap orang berupaya memoles diri, menyembunyikan “aslinya”, “jaim”. Dunia seperti ini rawan kebohongan dan kepalsuan. Tersenyum padahal memaki. Memberi padahal menjerat. Mempersilahkan padahal mengusir. Mengasihi padahal membenci.

3. Dunia kita adalah dunia yang pragmatis (tak mau repot, maunya yang serba enak dan gampang). Sesuatu yang sulit dihindari, dibenci, ditinggalkan. Barang-barang yang memanjakan gaya hidup ini amat laris, dan tersebar mulai di pusat kota sampai ke pedalaman. Kenapa harus masak, kalau bisa angkat telepon, lalu makanan datang? Ke pasar, mencuci sayur-mayur, meracik bumbu, ah repot! “Enak lho jeng, kalau beli masakan jadi. Sudah murah, masakannya komplit, dan nggak repot lagi!” Demikian kalimat yang pernah saya dengar.

4. Dunia kita adalah dunia yang rakus. Ada yang sudah memiliki banyak sekali, tetapi masih merasa sangat kurang. Kerakusan itu melekat pada banyak orang, baik yang sudah memiliki banyak maupun yang belum memiliki apa-apa. Tidaklah salah ungkapan, “Kerakusan itu ibarat meneguk air laut.”

5. Dunia kita adalah dunia yang mementingkan diri sendiri. Potret sesungguhnya karakter suatu masyarakat ada pada kehidupan di jalan rayanya. Keadaan jalan raya yang tertib mencerminkan keadaan masyarakat yang juga tertib. Bagaimana dengan keadaan jalan raya kita? Saling serobot di antara pengguna jalan, mengemudi tanpa SIM, rambu-rambu lalu-lalu lintas disangka hiasan jalan.

6. Dunia kita adalah dunia yang “serba abu-abu” (di antara “ya” dan “tidak”). Rajin beribadah tetapi rajin memuja berhala. Rajin berdoa, tetapi juga rajin berkeluh kesah. Rajin menasehati tetapi juga rajin mengingkari. Khidmat saat sakramen, tetapi selalu lupa kalau punya hutang. Ada jarak antara hati dan kata-kata.

Hal-hal buruk yang disebut di atas bukan lagi sekedar permukaan yang mudah dibersihkan seperti kalau kita membersihkan debu di meja makan, tetapi telah mengakar, bahkan sudah menjadi urat nadi kehidupan warga masyarakat! Malahan yang berada di permukaan -barangkali- justru iman! Mungkin, itulah sebabnya Indonesia sekalipun dikenal sebagai negara yang religius, tetapi sekaligus juga yang negara terkorup!

Berada ditengah dunia seperti itu: Mampukah kita menyelenggarakan perayaan Natal yang benar dan bertanggungjawab seturut kehendak Tuhan?

Sekalipun berat (mustahil?), ada baiknya kita berupaya, berjuang mencari yang terbaik, supaya perayaan-perayaan Natal kita benar-benar sebagai persembahan kepada Tuhan, bukan semata kepuasan diri sendiri. Secara gerejawi sebenarnya sudah ada tata cara yang benar, yaitu mengawali masa advent dengan Perjamuan Kudus. Hal ni dimaksudkan supaya rancangan- rancangan natal kita didahului oleh refleksi, pendalaman makna, sehingga kegiatan Natal menjadi jelas arah dan tujuannya.

Mari kita belajar dari sosok Maria.

Layout 11. Ketika orang-orang lain sibuk dan reaktif menyambut kelahiran Yesus Sang Bayi kudus, Maria justru berdiam diri (Lukas 2: 19). Padahal Maria memiliki kedekatan dengan Bayi Yesus lebih dari siapa pun. Kematangan kepribadian Maria ini rupanya sudah lama melekat pada dirinya, bukan kematangan kepribadian yang tiba-tiba. Bahkan pada saat ia sedang mengandung pun telah menunjukkan hal itu. Perhatikan ungkapan- ungkapan visionernya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah”-Lukas 1: 46-48, 51-52. Pada satu sisi ia menyadari posisi istimewanya, tetapi di sisi lain ia tetap berjuang menempatkan diri sebagai warga masyarakat biasa. Maria memiliki karakter yang kuat!

2. Lukas 2: 19 “Maria menyimpan segala perkara itu didalam hatinya dan merenungkannya.” Maria mempunyai modal yang banyak untuk bersuka-cita melebihi lainnya. Tetapi ia tidak emosional atau reaktif dalam menanggapi kelahiran putranya. Maria juga mempunyai banyak kesempatan untuk mengukuhkan citra dirinya, tetapi itu tidak dilakukannya! Maria tidak jatuh kedalam sikap mengedepankan pencitraan, melainkan ia justru semakin bergelut dengan gejolak batinnya. Padahal dialah satu-satunya pribadi yang memiliki kedalamam relasi dengan Yesus lebih dari siapa pun! Dia mengarahkan perhatiannya ke dalam, bukan ke luar! Ia semakin tergerak untuk mempertajam kedalaman relasinya dengan Tuhan. Maria tidak terhanyut oleh ledakan emosional karena kebahagiaanya. Ia tidak mengejar sensasi! Ia tidak mengejar popularitas. Ia tidak mengejar citra diri yang akan mudah dilihat dipuji oleh orang lain. Tetapi ia justru berdiam diri (kontemplasi)! Ia memanfaatkan perjumpaan dengan bayi Yesus sebagai momentum penempaan diri, penempaan rohani. Bandingkan dengan Mazmur 139: 23 “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” atau Mazmur 26: 2 “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.” (Bandingkan juga dengan perbedaan antara sikap Maria <bukan ibu Yesus> dan Marta di Lukas 10)

3. Maria menembus batas permukaan, sehingga memiliki kedalaman iman/ relasi dengan Tuhan. Relasinya dengan Tuhan mengakar, sehingga menjiwai seluruh sisi kehidupannya. Sikapnya itu menghasilkan kekuatan hidup <spiritualitas> yang amat hebat. Ia tidak oportunis (aji mumpung), tidak reaktif (mudah tersulut emosi), melainkan tahan uji. Dengan terbebani Bayi Yesus dan dengan barang bawaan lainnya Maria dan Yusuf harus melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, karena menghadapi angkara murka Herodes yang haus kekuasaan, namun ia kuat, tidak mengeluh! (“…Orang benar akan bertunas seperti pohon korma…”- Mz 92: 13)

4. Maria memberi inspirasi tentang hidup yang berfokus pada integritas <kelekatan antara hati/ iman dengan kata/ perbuatan>. Kakinya mantap melangkah sekali pun dihadang oleh raja bengis Herodes. Langkahnya tenang karena ditopang oleh kesediaan terus menerus menyempurnakan kebaikan didalam <be good- looks good: kebaikan di luar itu adalah pancaran kebaikan dari dalam>.
Dengan demikian, akan kita arahkan ke mana peringatan Natal kita tahun 2010 ini: lebih mengejar sisi citra, kulit, label <atraksi> ataukah ke arah kedalaman <depth, kontemplasi>? Semoga melalui Perjamuan Kudus yang akan kita terima bersama-sama menolong kita menemukan jawaban yang benar dalam mempersiapkan Natal 2010.

Amin.