Menyiapkan Pra Konsep Program Kegiatan Tahunan (PKT) 2017

Pengantar

Suatu saat ketika tiga anak saya masih kecil-kecil, saya sempat tersenyum sendiri saat mereka bertiga sedang duduk bersebelahan satu sama lain di kursi ruang tamu. Masing-masing anak sedang asyik “membaca” majalah Bobo. Saya lalu mendekati mereka. Kepada anak terkecil saya bertanya, “Kamu sedang apa?” “Meniru Mas Adri,” jawabnya. Lalu saya berpindah ke anak kedua, “Kamu sedang apa?”. Dijawab, “Meniru Mas Tulus”. Anak yang pertama tidak saya tanya, karena saya yakin bahwa dia sedang menikmati cerita-cerita di majalah yang sedang dibacanya.

Tiga anak itu terlihat sedang melakukan kegiatan yang sama, yakni “membaca: mengarahkan pandangan matanya ke majalah Bobo”, tetapi terdapat perbedaan yang mendasar antara anak pertama dengan  anak kedua dan ketiga. Anak pertama menikmati kegiatan itu, karena pikiran, hati, dan perasaannya difungsikan untuk mencerna dan menikmati cerita di majalah itu, sedangkan anak kedua dan ketiga hanya sekedar bergaya mengikuti tingkah kakaknya. Pada anak kedua dan ketiga terdapat jarak yang jauh antara pikiran, hati, dan perasaan mereka dengan isi majalah yang dipegangnya, karena kedua anak itu belum bisa membaca. Anak pertama sudah duduk di kelas I SD, sedangkan anak kedua dan ketiga masih berusia di bawah lima tahun.

Pengalaman di atas selalu muncul kembali di benak saya ketika ada orang-orang yang bertanya kepada saya, misalnya:

  • “Mengapa ada warga jemaat yang sudah meninggalkan ruang ibadah, padahal ibadah belum selesai?”
  • “Mengapa ada seseorang yang marah ketika sekedar ditanya dengan tulus hati: Apakah Anda yang menyimpan uang persembahan Patuwen seminggu yang lalu?”
  • “Mengapa ada warga jemaat yang sepanjang ibadah Minggu berlangsung senantiasa sibuk dengan gawainya: membaca WA atau isi internet lainnya, dan baru berreaksi ketika tanda-tanda ibadah akan usai?”
  • “Mengapa Pak Drembo hanya mau hadir Patuwen di keluarga Pak Polan, sedangkan di keluarga-keluarga lainnya tidak?”
  • “Mengapa orang yang sudah kenyang dengan pelayanan, tetapi masih begitu reaktif ketika disinggung tentang keluarganya yang tidak pernah berkegiatan di jemaat sendiri?”
  • “Mengapa ada warga yang uangnya banyak sekali, tetapi persembahannya sama dengan warga yang uangnya sedikit sekali?”
  • “Mengapa ada orang yang mampu selalu memberi nasehat kepada orang lain, sementara dirinya sendiri menjadi rasanan banyak orang karena memilih orang tertentu dalam bergaul?”
  • “Mengapa ada warga jemaat yang selalu menceritakan keburukan Si A setiap bertemu dengan orang lain?”

Sebaliknya,

  • “Mengapa ada orang yang dikecam khotbahnya, tetapi justru mengucapkan terima kasih dengan tulus?”
  • “Mengapa ada orang yang terbatas sekali penghasilannya, tetapi tak pernah sekalipun terdengar berkeluh-kesah?”
  • “Mengapa ada warga yang tanpa diminta apalagi didesak, tetapi mau mempersembahkan uang atau barang yang nilainya tinggi ke jemaat?”
  • “Mengapa ada warga yang amat sibuk dalam pekerjaan sehari-harinya, tetapi ringan tangan kala jemaat membutuhkannya”
  • “Mengapa ada warga jemaat sering meminta informasi kepada pendeta tentang siapa saja warga jemaat yang perlu dibantu demi kerinduannya berbagi berkat kepada sesamanya?”
  • “Mengapa ada warga jemaat yang selalu bersedia menjadi tuan rumah patuwen ketika pada jadual yang sudah ditentukan tuan rumah yang sudah terjadual berhalangan?”
  • “Mengapa ada warga yang hanya agak terkejut sebentar (tanpa rasa sakit hati) ketika dicela dan dianggap tidak becus menyampaikan renungan di patuwen?”
  • “Mengapa ada warga yang selalu mempersiapkan persembahan syukur setiap kali memperingati HUT-nya?”

Ketika saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas — terutama mereka yang belum menjalani hidup berimannya dengan baik– di benak saya lalu muncul pertanyaan sederhana, “Siapakah sebenarnya yang dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga jemaat itu? Lalu, di manakah pengaruh ayat-ayat suci dan lantunan pujian merdu yang setiap saat dihayatinya itu dalam hidup sehari-harinya? Yesus Kristuskah panutannya? Rasanya tidak mungkin, sebab Yesus tidak pernah mengajarkan apalagi memberi teladan tentang kekikiran, reaktif, atau prasangka buruk. Tak adakah firman Tuhan yang sedikit membekas sehingga tampak dalam praxis (praktik hidup yang didorong oleh penghayatan  iman) sesudah puluhan tahun digelutinya?

Dalam rangka mencari jawaban itulah kemudian angan-angan saya “melayang” ke pengalaman ketika menyaksikan tiga anak saya duduk di kursi tamu. Anak yang tertua berhadapan dengan huruf-huruf dan menikmatinya, sedangkan anak kedua dan ketiga juga berhadapan dengan huruf-huruf, tetapi pikiran dan hatinya kosong: terdapat jarak yang teramat jauh antara hati dengan huruf-huruf yang “dibacanya”.  Mereka berdua berjerih lelah untuk beraktivitas (mereka sungguh-sungguh dalam memegang majalah dan sungguh-sungguh dalam mengarahkan matanya ke arah deretan huruf), tetapi yang dihasilkan hanya lelah, dan mungkin jengkel, karena kakak tertua tidak selesai-selesai membacanya. Terkadang saya kemudian menarik kesimpulan secara gampangan dengan menghubungkan peristiwa itu dengan berbagai aktivitas di jemaat dan di tempat-tempat lain. Ada yang menjalani aktivitasnya pelayanannya dengan sungguh-sungguh: mau mengorbankan waktu, pikiran, uang, dan keluarga. Sekalipun demikian ketika orang ini dikritik oleh orang lain atau hasil jerih lelahnya tidak dihargai oleh orang lain, sikapnya rileks dan mau mencerna kritikan itu sebagai bahan untuk memperbaiki pelayanannya dan kecintaannya pada bidang kegiatan yang ditekuninya sama sekali tidak berkurang. Sebaliknya yang beraktivitas sedikit saja, tetapi mudah mengeluh dan rentan sekali terhadap penilaian dari orang lain; bahkan ada yang kemudian menghilang dari persekutuan ketika sekedar mendapat saran dari orang lain.

Secara amat sederhana –mungkin ngawur- saya lalu tergoda untuk menyimpulkan bahwa ada dua kategori warga jemaat, yakni yang menep dan yang masih ngambang. Menep itu seperti anak pertama, yakni beraktivitas dan mampu menyelami maknanya; andaikan pohon itu seperti pohon kurma, akarnya menghunjam ke dalam: kokoh dalam menopang berbagai terpaan, termasuk badai! Sedangkan ngambang itu seperti anak kedua dan ketiga: beraktivitas sama dengan yang menep, tetapi belum melibatkan secara mendalam hatinya; juga seperti pohon kurma, cuma pohon yang baru berusia amat muda.[1]

Apakah ada sosok yang menep 100% dan yang ngambang 100%? Saya tidak tahu keadaan di jemaat kita, berapa yang sudah pada tahap menep dan berapa yang masih pada tahap ngambang. Adalah baik kalau kita optimistis. Andaikan saja 90% warga dewasa jemaat  sudah sampai pada tahap menep dalam hidup sehari-harinya dan 10% nya masih dalam tahap ngambang: Sudahkah keadaan itu menyebabkan kita berpuas diri sebagai pelayan?  Jika dibandingkan dengan ketika kita masih sekolah, mendapat nilai 90 itu sudah baik. Bagaimana dengan sebuah pelayanan? Medan pelayanan bukan soal  mendapatkan nilai, tetapi medan untuk menyapa satu demi satu warga. Rasanya baik kalau kita belajar dari sikap Yesus. Ia mengatakan,  “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?”. “Hah, meninggalkan yang 99 demi mendapatkan yang mengembalikan yang satu? Gila apa!” Begitu barangkali reaksi spontan kita.  Reaksi ini wajar, karena selama ini pelayanan kita – mungkin- lebih banyak ditujukan untuk yang 99, bukan yang 1, yang hilang. Sebuah pelayanan yang memberi ruang seluas-luasnya untuk mereka yang sudah menep, sedangkan mereka yang masih dalam tahap ngambang justru kita anggap sebagai pengganggu persekutuan. Sebuah prinsip pelayanan yang berbeda dari pelayanan Yesus: yang baik kita puja-puji dan senantiasa diberi ruang gerak yang luas, sementara yang “sakit” amat kita batasi ruang geraknya bahkan terabaikan. Pola pelayanan Yesus justru kosokbalinya. Mengapa demi yang satu Tuhan Yesus justru meminta kita meninggalkan yang 99? Sederhana saja maknanya, karena bagi yang sudah menep mendapatkan pelayanan yang –maaf, ala kadarnya saja- sudah cukup, tidak akan menggangu kedewasaan iman mereka; sedangkan yang ngambang, sekalipun kecil jumlahnya tetapi perlu lebih total dan fokus dalam melayaninya. Persoalan tentu akan menjadi lebih serius jikalau ternyata jumlah yang ngambang bukan 10%, tetapi jauh lebih banyak entah 25 atau bahkan >50%? (Semoga bukan yang 99 yang hilang!?)

Lalu, akan fokus ke siapa PKT 2017 kita buat?

Temuan Komperlitbang MA GKJW

Dalam rangka mengevaluasi kegiatan-kegiatan jemaat selama Pokok-pokok Rencana Kegiatan Pembangunan (PRKP 1987-2016= 30 tahun) ditemukan data bahwa pelayanan yang paling dirasakan manfaatnya oleh jemaat adalah pelayanan kematian (mulai dari pelayanan perawatan jenasah sampai dengan ibadah penghiburan)[2] Hasil temuan ini memunculkan pertanyaan serius: Mengapa bukan kebutuhan iman/ batin (sesuatu yang menjadi inti kehidupan warga jemaat) yang utama dirasakan oleh jemaat? Lalu, bagaimana dengan pengalaman eksistensial warga jemaat atas imannya, sudahkah tersapa/ terjawab oleh pelayanan jemaat? Padahal bukankah sebenarnya kebutuhan hakiki warga jemaat dalam bersekutu adalah terjawabnya kebutuhan iman/ batinnya dalam berrelasi dengan Tuhannya, setidaknya kedalaman imannya akan selalu terpelihara? Apabila kebutuhan hakiki warga itu tidak segera dijawab/ dipenuhi oleh gereja, maka akan dengan mudah hati mereka direbut oleh ideologi-ideologi kekristenan yang pragmatis: warga jemaat akan mudah sekali meninggalkan jemaatnya dan jatuh hati pada persekutuan-persekutuan lainnya yang lebih cocok dengan selera dan kebutuhan sesaat rohaninya: menghadiri ibadah-ibadah yang bisa menyentuh perasaannya dan membangkitkan pengharapan akan berkat riel di depan mata atau bahkan terjerat oleh agnostisisme (sebuah gaya hidup yang tidak lagi menganggap bahwa Allah hadir dalam keseharian manusia; melainkan kehadiran Allah cukup hanya dipercaya tanpa harus dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari) yang memang sudah mengincar untuk menerkamnya. Belum puasnya warga jemaat terhadap pelayanan jemaat yang holistic juga berdampak pada kurangnya partisipasi warga jemaat dalam ikut serta mewujudkan panggilan pelayanan melalui kegiatan berteologi, bersekutu, bersaksi, pelayanan cinta kasih dan berpenatalayanan. Jika dalam titik-titik kritis yang dialami oleh warga jemaat, gereja hadir menyapa pergumulan mereka, maka mereka akan dapat mengaktualisasikan pengalaman imannya dalam kehidupan berjemaat bersama dengan yang lain. Hasil penelitian Komperlitbang MA tahun 2015 menunjukkan tingkat belum puasnya warga jemaat terhadap pendampingan spiritual, pastoral, pergumulan ekonomi (pelayanan yang holistic) sampai pada titik yang harus diperhatikan oleh gereja dan pelayannya. Perhatian dan pendampingan gereja yang utuh terhadap warga jemaatnya diharapkan dapat menjadikan warga jemaat kita tidak gamang dalam menjalani kehidupan dan pergumulannya.

Mereka yang menep relatif aman dari sergapan ideologi pragmatis kekristenan maupun agnostisisme, namun bagaimana dengan yang ngambang? Inilah pekerjaan rumah kita.

      Harapan

Rapat PKTEra PRKP dan Pokok-pokok Kegiatan Pembangunan (PKP/ 6 tahun) akan segera berakhir pada tahun 2016 ini. Mulai tahun depan kita akan memasuki era baru, yakni Era Program Pembangunan Jangka Panjang (PPJP/ 18 tahun) dan Program Pembangunan Jangka Menengah (PPJM/6 tahun). PPJP diterangi tema, Mandiri dan Menjadi Berkat. Untuk menyambut tema besar itu adalah baik kalau kita mau mempertajam fokus pelayanan kita. Senyampang masih pada tahun pertama PPJP/PPJM adalah baik kalau kita menempatkan temuan Komperlitbang MA (pelayanan kematian paling utama menyentuh warga  jemaat) sebagai cermin untuk mawas diri dan sekaligus sebagai kesempatan untuk membenahi kebutuhan-kebutuhan eksistensial warga yang selama ini belum terpenuhi secara optimal. Salah satu hal yang mendesak dan perlu segera kita siapkan adalah sebuah pelayanan yang mampu memperkuat identitas otentik warga jemaat (satu demi satu) dan juga persekutuan jemaat (kebersamaan) sebagai milik Kristus.[3] Otentisitas itu ditandai oleh, a.l.:

  1. Warga jemaat yang berketetapan hati (menep), taat dan setia kepada Tuhan di tengah pusaran jaman:[4]
    1. dalam hubungannya dengan sesama: mau menjadi sahabat, penolong, pendamai, mengutamakan cinta kasih sejati, dan tulus hati/ tidak munafik.
    2. dalam hubungannya dengan alam ciptaan: mau merawatnya dengan bijaksana, tidak memanfaatkannya secara rakus (ugahari), menyadari akan kebutuhan anak cucu di masa mendatang.
    3. dalam hubungannya dengan jemaat/ GKJW: lahir batin menghayati dan mengakuinya sebagai “rumah” yang dicintai secara tulus; dengan sadar dan suka cita turut serta menghidupi agar GKJW terus bertumbuh dengan cara ikut serta menopang berbagai kebutuhannya.
  2. Pelayan jemaat yang sepenuh hati mengabdi kepada kehendak Kristus, a.l. ditandai:
    1. dalam hubungannya dengan warga jemaat: fokus menyapa warga jemaat satu demi satu demi terpeliharanya iman sehingga bisa menjadi berkat bagi sesama; bisa menjadi sahabat terpercaya bagi warga jemaat yang ingin menumpahkan keluh kesahnya;
    2. dalam hubungannya dengan GKJW: tidak lelah menumbuhkan rasa cintanya sehingga terus berusaha untuk menggali inspirasi untuk mengembangkannya;
    3. dalam hubungannya dengan kolega: mau menjadi rekan yang saling melengkapi, sehingga masing-masing makin diperlengkapi kebutuhannya untuk melayani secara optimal; menjauhi perilaku hina yang menghambat rekannya untuk mengembangkan diri sesuai dengan talentanya.
    4. dalam hubungannya dengan Sang Pengutus: mau secara ajeg mengasah spiritualitasnya agar dari hari kehari semakin dimampukan untuk: rendah hati, rajin berbuat baik, tanpa pamrih, reflektif, dan memiliki jiwa altruistik.

Penutup

Satu hal -saya kira- yang amat menonjol di jemaat-jemaat GKJW adalah unsur kesetiaan warga jemaat pada persekutuan. Tidak salah kalau mengatakan bahwa kesetiaan itu sampai saat ini saya masih masih menjadi salah satu pilar yang menopang berbagai aktivitas jemaat. Tidak terlalu sulit untuk menunjukkan indikatornya, misalnya: a) Ketika turun hujan amat lebat pada jam ibadah patuwen, tetap saja warga jemaat mau berbasah-basah mengunjungi (tetuwi) saudaranya sesama warga jemaat. Aktivitas seperti ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu dan masih bertahan sampai saat ini. b). Ibadah-ibadah yang kita ikuti, entah Minggu atau ibadah lainnya masih setia dihadiri oleh warga jemaat sekalipun seringkali terjadi banyak ketidaksempurnaan: misalnya: cara bernyanyi yang tidak sesuai dengan karakter asli lagu; pelantang yang seringkali tidak jernih; suara pemimpin ibadah tak terdengar, dlsb.

Modal yang baik di atas mengharuskan kita untuk optimistis. Oleh karena itu butir-butir harapan sebagaimana tertulis di atas perlu dicek dan didalami lagi dengan cermat sesuai dengan konteks Jemaat. Perlu pikiran dan hati jernih serta kerendahan hati yang penuh untuk mengurai butir-butir di atas menjadi program jemaat. Tujuan utama kita menyiapkan program bukanlah semata mengisi hari-hari yang ada dengan berbagai kegiatan yang menarik dan disukai oleh warga jemaat, supaya gereja tampak regeng dan dinamis, bukan! Namun perlu dipikirkan dan dipertimbangkan dengan jeli agar setiap program yang kita siapkan menolong warga jemaat lebih dapat bertumbuh dalam praxis yang semakin mendekati  teladan Yesus Kristus. Jadi, bukan soal program yang atraktif atau yang mendatangkan decak kagum, tetapi soal kesungguhan fokus pada kesetiaan dan ketaatan dalam mencari yang 1. Mungkin ini sebuah jalan yang sunyi dan sepi, tetapi lebih berpeluang untuk menghasilkan buah, karena menjadikan Yesus Kristus sebagai panutannya.  Hal yang diutamakan dalam tulisan ini adalah adanya perubahan “mindset= pola pikir” dari fokus pada 99 ke fokus pada yang 1. Semoga!

Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari

Amsal 4: 18

[1] Dalam kenyataannya nyaris tidak ada orang yang benar-benar menep atau ngambang dalam seluruh sisi kehidupannya. Hampir setiap orang akan mengalami pasang surut antara menep dan ngambang dalam praktik hidup sehari-harinya. Misalnya, Pak Dadap begitu tenang dan legawa ketika disinggung tentang harga dirinya, tetapi menjadi sangat reaktif ketika disinggung tentang problem anaknya. Sebaliknya, Pak Polan begitu reaktif ketika disinggung tentang harga dirinya, dan begitu tenang dan legawa ketika disinggung tentang problem anaknya. Sehingga istilah menep dan ngambang yang digunakan dalam tulisan ini adalah untuk menunjuk pada pribadi yang dalam hidup sehari-harinya memiliki kecenderungan kuat dengan salah satu karakter itu. Sosok yang disebut menep bukan berarti tidak pernah reaktif; pernah tetapi itu sangat jarang terjadi. Demikian pula sebaliknya.

[2] Lihat Pengantar PHMA kepada Sidang MA  tahun 2016

[3] Lihat buku PPJM I halaman 9 (1.4.1 s.d 1.4.5)

[4] Lihat Pengantar PHMA kepada Sidang MA  tahun 2016

 

Kata Kunci Artikel Ini: