Keterlibatan Gereja dalam (Latihan) Kewirausahaan Pemuda Share Pengalaman Kontekstualisasi GKJW Tunglur melalui Kelas Kreatif dan Kafe Door

Selama sepuluh tahun terakhir ini, industri kultural dan kreatif telah menorehkan dirinya dalam peradaban. The Guardian menyebutkan bahwa Inggris hari ini berkembang bukan lagi pada bisnis barang konvensional, tetapi terutama karena industri kultural dan kreatif di sana. Bahkan industri kultural dan kreatif dianggap sebagai kunci perekonomian Inggris hari ini dan ke depan. Australia juga mencatatkan hal yang sama, jumlah tenaga kerja dalam industry kultural dan kreatif melonjak 40 persen lebih tinggi daripada industri lain pada tahun 2017. Laporan UNESCO pada akhir tahun 2015 mencatatkan hanya 11 industri kultural dan kreatif telah menghasilkan nominal yang lebih tinggi dari PDB India dari seluruh kegiatan ekonomi di sana pada tahun 2015 tersebut.

Industri kultural dan kreatif adalah industri yang berfokus pada inovasi, pemanfaatan ilmu pengetahuan, dan hanya berbatas pada kreativitas. Sedangkan kreativitas sendiri bisa dikatakan hampir tak berbatas. Industri kreatif sendiri merentang mulai dari pertelevisian, media dan telekomunikasi, periklanan, design visual, fashion, fotografi, arsitektur, hingga game dan film.

Siapa menduga bahwa fotografi makanan, fashion designer, gambar bangunan hari ini adalah usaha yang laris manis bahkan menghasilkan angka yang lebih besar dari pada tenaga kerja kantoran. Bahkan di dunia hari ini, dukungan industri kultural dan kreatif menyumbangkan PDB lebih besar dari gabungan industri-industri tradisional, sekaligus menyumbangkan jumlah tenaga kerja yang semakin hari semakin tinggi. Bisa jadi bahwa ke depan, industri kultural dan kreatif adalah kunci bagi peradaban abad-abad ini.

Dunia hari ini bergerak jauh lebih cepat daripada dunia dalam 30 tahun yang lalu. Teknologi informasi telah menunjukkan pengaruhnya pada pergerakan dunia. Melihat hal itu, jika gereja tidak mengambil sikap atas perubahan dinamika jaman ini, gereja bisa kehilangan keterlibatannya dalam membawa misi damai sejahteranya bagi dunia. Lebih-lebih jika gereja sekadar berkonsentrasi pada perihal organisatoris harian, dan agak kurang awas bahwa dunia hari ini sedang sama sekali berkembang.

Telah menjadi masalah klasik bahwa banyak pemuda gereja akhirnya meninggalkan komunitas bergerejanya untuk bekerja di luar daerah. Sehingga yang tinggal di geraja lebih banyak para sepuh dan anak-anak. Bahkan anak-anak pun mulai banyak terlibat degan banyaknya aktivitas di luar gereja sehingga menjadikan gereja tidak menjadi tempat pertumbuhan pertama mereka.

Saya menduga ke depan, akan semakin banyak pemuda yang meninggalkan daerahnya untuk bekerja di luar daerahnya. Jika berkata gereja masih akan tetap berjalan di tengah segala perubahan itu, tentu saja. Namun tren gereja di Dunia Utara (Eropa dan Amerika Utara) menunjukkan fenomena bahwa seiring waktu bersama dengan semakin berkembangnya dunia ekonomi, maka gereja pun semakin ditinggalkan. Hari ini bukan sebuah hal yang sama sekali baru jika telah ditemukan bahwa basis dinamika gereja telah bergeser dari Utara ke Selatan. Asia dan Afrika telah menjadi lokus baru perkembangan gereja. Namun dengan semakin tidak terbatasnya akses pada perihal kultural dan kreatif dalam industri dan dunia ekonomi, bisa diduga bahwa tren gereja-gereja Utara, jika tidak disikapi dengan tangkas akan terjadi juga di Selatan.

 

GKJW dan Program Kepemudaan

Dalam Rapat Kerja KPPMD Kediri Utara 2 dengan KPPMJ di jemaat-jemaat seluruh MD Kediri Utara kami menemukan sesuatu menarik. Selama era PPJM I GKJW (2017-2022) terdapat tujuh arah dalam peminaan pemuda dan mahasiswa, yaitu:

  1. Penyediaan dan pendaratan bahan pembinaan yang membekali pemuda dalam menghadapi era global
  2. Pembekalan dalam bentuk pelatihan-pelatihan bagi pemuda untuk berkiprah dalam era global
  3. Pemantapan Regenarasi Pemuda
  4. Pembinaan dan pengembangan model pembinaan tenaga pendamping pemuda dan mahasiswa
  5. Pengembangan Peribadatan Pemuda GKJW
  6. Peningkatan kualtas dan kuantitas komunitas basis mahasiswa
  7. Pengembangan sistem pembinaan pemuda dewasa

Poin 1 dan 2 termasuk di dalamnya terkait jiwa kebangsaan dan nasionalisme, hubungan lintas iman, dan kewirausahaan. Setelah melihat PKT 10 jemaat yang ada di MD Kediri Utara 2, ternyata PKT jemaat rata-rata masih bergerak dalam pengembangan peribadatan pemuda. Gereja nampaknya masih semata-mata diidentikkan dengan sebuah lembaga sosial yang mengurusi perkara rohaniah semata. Sehingga selainpoin 5, tidak banyak gereja yang memprogramkan poin-poin yang lain dalam PKT-nya (Program Kegiatan Tahunan). PKT Jemaat sebagian besar berpusat pada perayaan hari raya gerejawi, kebaktian bernuansa pemuda, dan retreat-retreat. Saya menduga hal semacam ini tidak hanya terjadi di MD Kediri Utara 2, tetapi di seluruh GKJW.

Jika berdiskusi tentang kepemudaan di gereja, masalah seperti kesenjangan antara gaya berkebaktian generasi muda dengan generasi yang lebih tua kerap masih menjadi permasalah utama. Hingga hari ini masalah bermusik dengan band dan berkebaktian dengan nuansa pemuda kerap masih disinggung-singgung sebagai masalah kepemudaan. Ketidakhadiran dalam kebaktian masih menjadi ukuran utama keterlibatan seseorang dalam pelayanan gerejawi. Poin-poin selain itu disinggung sambil lalu tetapi agaknya minim disikapi dengan serius. Berbicara tentang pemuda, seolah-olah seperti sedang berbicara tentang kebaktian a la anak muda yang melulu menekankan terus menerus pada kebersamaan. Sisi patunggilan itu begitu kuat, namun bersama dengan itu nampaknya lalu menjadi agak kurang awas pada tantangan-tantangan lain, selain persekutuan yang terus berkebaktian bersama-sama.

Dalam kegiatan-kegiatan tersebut tentu poin-poin lain juga dicakup, tetapi rata-rata mengingat bahwa kebaktian dan retreat paling panjang hanya dalam waktu 2 hingga 3 hari, maka poin-poin lain termasuk menyikapi perubahan era global rata-rata masih berpusat pada pematerian dan pembinaan dengan simulasi, tidak sampai pelatihan dengan terjun langsung melakukan. Penelitian pada hal ini nampaknya juga belum cukup beragam.

Mengikuti Road Service GKJW tahun 2016, saya menangkap gelagat yang serupa. Pertanyaan para pemuda rata-rata berkisar di seputar sejarah, musik, liturgi kreatif, dan organisasi di gereja. Perihal seputar hubungan lintas iman, kewirausahaan, dan hubungan dengan hal-hal di luar gereja masih tergolong kecil. Keberanian untuk mengatakan bahwa kebaktian sebenarnya sudah selesai sampai tahap tertentu belum cukup tegas. Kegiatan kebaktian raya dan retreat ke luar kota kerap kali ramai diikuti dengan antusias, namun kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal di luar pelayanan gerejawi masih minim peminat.

Jika boleh sementara menyimpulkan, saya mengatakan bahwa perkembangan pembinaan kepada pemuda dan mahasiswa kita lebih banyak masih berkisar di seputar panggilan koinonia (persekutuan), dan kita masih kesulitan dalam diakonia (pelayanan cinta kasih) dan marturia (kesaksian).

Melihat hal ini, tentu gereja, sebut saja GKJW, perlu mengambil langkah strategis dan operatif terkait keterbatasan menyikapi situasi perubahan tersebut. Gereja memang bukan berasal dari dunia, sehingga gereja tidak seharusnya menjadi seperti dunia. Tetapi agak abai pada siatuasi dunia bisa menjadikan gereja menjadi ekslusif dan tidak menjejak bumi. Atau dalam bahasa yang lebih biasa dikenal secara teologis, menjadi tidak kontekstual. Padahal saya menduga panggilan pertama dalam usaha untuk menjadi berkat adalah usaha untuk berkonteks pada kehidupan di sekitar.

Perkembangan Kekristenan di Jawa Timur mencatatkan sejarah menarik terkait ini. Berbeda dengan Sumatera Utara dan Toraja yang berpola zending datang, mengajar, membentuk komunitas hingga akhirnya berdiri gereja, di Jawa Timur tidak demikian. Zending di Jawa sering kali mengalami permasalahan karena orang Jawa sulit menerima berita Injil. Zending yang dikirim sebelum abad 19 tidak pernah tercatat membuahkah hasil. Didukung kenyataan bahwa zending dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa yang dikonotasikan sebagai penjajah dan pemeras.

Namun ketika orang-orang Jawa itu bertemu dengan orang yang bagi mereka mempunyai kelebihan tertentu, baik itu kesaktian, kekayaan, pengaruh sosial, serta memberikan keuntungan secara ekonomi; pada saat itulah mereka bisa dengan rela menerima berita Injil. Demikian tercatat sejarah awal lahirnya gereja-gereja di pulau Jawa, termasuk GKJW sebagai komunitas awal, dilanjutkan oleh komunitas-komunitas lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta mulai awal 1800an sejak era Ngoro bersama Coolen. Di Tanah Jawa, Kekeristenan masuk bersama budaya, bertumbuh bersama lokalitas. Sekalipun misalnya ada J. Emde dari Gereja Protestan Surabaya yang memerintahkan pengikut Kristen untuk bergaya Eropa, hal tersebut adalah perkembangan berikutnya setelah mereka sudah dapat menerima Injil Markus sebagai ilmu sejati. Jellesma, salah satu dominggus zending yang membawa dampak besar bagi Keksristenan di Jawa pun bertemu dengan masyarakat Jawa dalam budaya Jawa. Baru tokoh-tokoh berikutnya seperti Kraemer di Malang, Poensen di Kediri, dan J. Kruyt di Mojowarno yang mulai mengajarkan dogma Kekristenan secara lebih sistematis muncul dan berkarya serta akhirnya diterima sebagai pola Kekristenan di masing-masing daerah tersebut. Tetapi titik pertemuan awal Kekristenan selalu diawali dari langkah kultural, bergerak di wilayah kehidupan lokal dan berangkat dari semangat lokalitas.

Maka berbicara mengenai kontekstualisasi hari ini, tentu pembicaraan mengenai nguri-uri budaya tetap hidup. Namun, mengingat bahwa generasi hari ini mulai berjarak dengan sejarah dirinya, kontekstualisasi yang cenderung dipahami adalah kontekstualisasi abad 21 dengan sosial media, dunia kerja, dan budaya populer. Dengan itu, melihat perjalanan sejarah sekaligus karakteristik masyarakat Jawa pada umumnya, Gereja perlu melakukan pendekatan dalam konteks zaman yang dimengerti oleh masyarakat abad 21 ini. Jika tidak penolakan seperti yang terjadi sebelum abad 19 bisa saja terjadi. Fenomena demikian misalnya mulai muncul dengan ketertarikan generasi muda hari ini lebih pada sosial media, dunia kerja,dan populer, ketimbang pada kehidupan pelayanan gerejawi yang agaknya terjadi hampir di segala tempat.

Maka saya berani mengatakan bahwa program kepemudaan gereja, jika ingin benar-benar berdampak bagi kehidupan (di samping upaya untuk nguri-uri budaya adi luhung masa lalu) adalah dengan mendekati konteks abad 21 tetapi tetap mengikatkannya pada kehidupan gerejawi. Dan saya tidak mengatakan ini mudah, mengingat bahwa konteks abad 21 kerap dipertentangkan dengan nilai-nilai luhur budaya yang telah dihidupi pada masa-masa sebelum era industri. Sosial media dan teknologi pada umumnya dianggap menjadi tantangan bagi intimitas personal, dunia kerja sering diperbandingkan dengan Matius 6:33, budaya populer sering dipertentangkan dengan budaya adi luhung lokal. Namun dalam tulisan ini saya semata-mata ingin berbicara mengenai satu hal saja, kewirausahaan, khususnya industri kultural dan kreatif.

 

Pendekatan Kultural Kewirausahaan

 Jika boleh sedikit mengkritik kebanyakan program gereja, kritik utama saya berangkat dari kenyataan bahwa hari ini gereja mencurahkan tenaga, sumber daya, dan dananya pada kegiatan yang melulu bersifat peribadahan. Benar bahwa peribadahan harus selesai dahulu, karena itu titik awal sekaligus identitas Kekristenan, namun jika energi semata-mata dicurahkan ke sana hingga agak mengesampingkan kebutuhan kontekstual, maka ada dua hal utama yang bisa saja terjadi:

  1. Kehidupan peribadahan menjadi semakin berjarak dengan kehidupan sehari-hari. Peribadahan lalu menjadi sarana tamasya iman untuk wayoutdari beban kehidupan sehari-hari. Acara-acara peribadahan mulai dari kebaktian raya hingga retreat-retreat menjadi ramai diikuti, tetapi lebih sebagai upaya memuaskan konsumerisme rohani, berupa kebutuhan bermusik yang baik, khotbah yang menyenangkan (biasanya yang lucu atau yang mengaduk-aduk perasaan), liturgi yang harus sesuai dengan liturgi baku selain itu akan dianggap ‘menyimpang’, dan firman Tuhan yang memberikan makanan bagi jiwa yang terus menerus lapar.
  2. Gereja tidak lagi mempunyai cukup energi untuk memulai bahkan memikirkan kebutuhan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bisa jadi malah gereja malah akhirnya sama sekali menolak dan resisten, atau malah sama sekali kompromis dengan kehidupan sehari-hari seperti masalah politik dan ekonomi. Menjadi sama sekali memisahkah diri dari dunia (dalam hal kewirausahaan dunia kerja dan sekuler) atau malah menerjunkan dirinya ke sana tanpa batasan nilai, selain semata-mata untuk diterima.

Melihat kenyataan demikian, gereja, menurut saya, harus berani mulai membelokkan kemudianya tanpa kehilangan kemudi tersebut. Saya di awal mengatakan ini tidak akan mudah, karena nilai pembelokan kemudi ini akan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dihidupi. Namun, jika ingin berita Injil tidak menjadi berita kadaluwarsa atau hanya senang dikunjungi di museum oleh para peziarah, gereja perlu memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh.

Masalah dana dan sumber daya kerap menjadi masalah utama, karena keduanya telah dihabiskan untuk kebutuhan harian rapat dan pelayanan-pelayanan ‘rohani’ gereja serta untuk pembangunan fisik kebutuhan rapat dan peribadahan. Keberanian awal untuk melakukan pendekatan kultural gereja dalam hal kewirausahaan bisa dilakukan dengan setidaknya dua cara:

  1. Jika kebutuhan rapat dan peribadahan memungkinkan untuk dikurangi, maka sebisa mungkin dikurangi dialihkan pada perogram-program berorientasi kewirausahan. Hal ini termasuk untuk kebutuhan-kebutuhan koinonia yang memakan kebutuhan dana yang besar. Ini tantangan tersendiri dalam gereja yang kehidupan organisatorisnya sudah sangat terstruktur. Ini membutuhkan pemrograman budgeting yang saksama.  Jika sumbernya memang hanya itu, kita tidak bisa membayangkan akan ada daya supernatural yang menambah begitu rupa pendanaan gereja, yang bisa kita lakukan adalah mengelolanya dengan baik.
  2. Penggalian dana malalui donatur. Namun cara ini bagi saya merupakan langkah yang lebih baik ditempuh sebagai langkah lanjutan, setelah gereja berupaya melakukan langkah pertama. Di GKJW sendiri yang hari ini memiliki tema kerja Mandiri dan Menjadi Berkat, kemandirian termasuk dalam hal pendanaan tetap perlu diutamakan. Hal ini lebih terkait dengan etos. Karena mengutamakan donasi (khususnya dari luar) ketimbang kerelaan untuk memberikan lebih bagi kehidupan komunitas sendiri akan menjadi masalah lain.  Etos dan gaya hidup meminta bisa tumbuh jika cara kedua ini ditempuh pertama sebelum melakukan cara pertama tadi. Namun cara ini menjadi perlu dilakukan ketika gereja memang sudah dalam tahap optimal rasional, artinya bahwa kapasitas jemaat sudah mentok sampai di sana. Ketika sudah tidak dimungkinkan lagi sumber dari dalam, sumber dari luar bisa menjadi pertimbangan.

Persiapan untuk hal ini memang tidak sederhana. Tetapi saya menduga bahwa kuncinya adalah pada teologi yang benar. Di era abad 21 ini, warga tidak lagi hanya belajar teologi dari gereja sebagai sumber utama. Berbeda dengan abad pertengahan ketika teologi menjadi queen of science, hari ini kenyataannya berbeda. Teologi tidak lagi menjadi primadona, bergeser pada ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kehidupan praktis, baik di bidang ilmu pengetahuan, politik, hukum, sosial, maupun ekonomi. Di sisi lain warga gereja hari ini bisa belajar teologi dari berbagai sumber. Belum ada penelitian yang cukup reliabel, tetapi saya menduga bahwa khotbah tidak lagi menjadi sarana utama pertumbuhan teologi, rasanya keteladanan personal lebih mengemuka. Di samping itu, dengan budaya www (whatever, wherever, whenever) sumber yang bisa diakses kapan dan dimana pun seperti internet pada masa ini, menjadi memiliki peran lebih besar bagi pertumbuhan iman. Saya tidak mengatakan www berlaku bagi semua kelompok di gereja, tetapi bagi para pemuda budaya www rasanya memegang peranan penting.

Maka mimbar di gereja perlu dipertimbangkan untuk digeser ke mimbar yag bisa diakses di mana pun dan kapan pun. Di GKJW Tunglur misalnya hal ini dilakukan dengan kegiatan 15 menitan dengan panduan Buku Kecil yang diterbitkan mingguan di Jemaat oleh kesekretariatan jemaat, upaya untuk menjadikan mimbar pertumbuhan rohani bukan lagi semata-mata di gereja, tetapi utamanya di keluarga. Bagi saya pribadi, ini langkah teologis yang penting. Intinya adalah masalah teologi yang benar harus dimiliki terlebih dahulu. Jika ditanya mengenai teologi yang benar, maka bagi saya hal itu adalah demikian: Kita telah dikuduskan oleh Kristus, maka hidup kita adalah upaya untuk bersyukur atas itu. Upaya bersyukur itu dilakukan dengan menjaga anugerah pengudusan dari dosa ini. Orang Kristen yang telah dikuduskan mengasihi orang lain, mereka berbuat jujur, mereka rela melepaskan miliknya untuk karya Tuhan yang lebih besar dan baik, mereka rendah hati, mereka tidak rakus pada kekuasaan dan kehidupan ekonomi, mereka berkomitmen menjaga militansi pada Kekristenan, mereka memiliki pengharapan sorgawi, dan hal-hal demikian.

Ketika masalah teologi ini sudah selesai. Maka masalah-masalah yang lain akan mengikuti termasuk kesediaan mereka tetap menjaga nilai Kristen dalam dunia kerja dan berkonteks abad 21. Sebelum seseorang masuk dalam dunia pemuda dan keluar dari rumah, mereka mengalami masa anak-anak dan remaja bersama keluarga. Pada saat inilah nilai-nilai Kekristenan perlu sampai tahap tertentu selesai.

Berikutnya mengenai kewirausahaan sendiri. Gereja perlu menyadari posisinya. Gereka bisa jadi tidak perlu menjadi tempat berwirausaha secara praktis, gereja adalah wadah untuk latihan dan syukur-syukur bisa menyediakan sarana serta jaringan untuk kewirausahaan tersebut. Gereja tidak perlu menjadi pusat kegiatan wirausaha, tetapi perlu menjadi semacam BLK (Balai Lakihan Kerja) untuk kewirausahaan dengan menanamkan nilai Kekristenan pada dunia usaha dan kerja yang didampingi dalam pelatihannya.

Untuk itu gereja tidak cukup hanya membina melalaui seminar-seminar, tetapi mengajak untuk terjun langsung dalam dunia wirausaha. Di sinilah gereja perlu menyediakan fasilitas baik berupa prasarana dan sarana maupun program. Jika untuk perlu ruangan khusus, bangunlah. Jika perlu tenaga pelatih dan kebetulan jemaat tidak memilikinya, datangkahlah. Jika perlu pendampingan berkelanjutan, dampingilah. Kegiatan latihan kewirausahaan gereja tidak cukup hanya berupa simulasi sekali pertemuan, tetapi perlu untuk langsung berhubungan dengan pasar.

Orang sering berpikir bahwa latihan kewirausahaan yang dilakukan gereja menyasar pada kecukupan masalah dana atau setidaknya mendukung pendanaan gereja. Syukur jika dari kegiatan wirausaha ini akhrinya bisa menuju ke sana, jika ternyata belum bisa sampai ke sana, kegiatan latihan wirausaha ini setidaknya bisa mendanai kegiatannya sendiri dahulu. Artinya orientasinya bukan terutama pada profit tetapi pada latihan kewirausahaannya. Pada saatnya gereja mungkin harus melepaskan para pemuda yang dibina dalam program ini ke dunia pasar atas diri mereka sendiri. Mereka mungkin membuka usaha sendiri atau bekerja di tempat lain, tidak masalah, karena memang orientasinya bukan pertama-tama pada dana, tetapi menyiapkan mereka masuk dalam era global. Jika lalu program latihan kewirausahaan itu lantas bisa memiliki entrepreneur yang memag berkomitmen untuk pendanaan gereja, itu adalah bonusnya saja. Hal inilah yang penting dipegang sebagai kunci latihan kewirausahaan.

Di GKJW Jemaat Tunglur, misalnya dengan Kafe Door, kami melakukan hal ini. Gereja menyediakan sarana berupa bangunan fisik, para pemuda lantas melakukan aktivitas latihan wirausaha di sana. Secara keuntungan finansial sebenarnya kafe ini tidak besar, tapi keuntungan kafe tersebut sudah bisa mencukupi kebutuhan kafe, bahkan untuk mendukung program-program kepemudaan di jemaat. Telah ada pemuda-pemuda yang lantas tidak lagi di Kafe Door karena mereka telah bekerja di tempat lain. Tetapi sebelum mereka terjun ke dunia kerja, mereka telah mengenal bagaimana kulakan, bagaimana bertemu dengan pelanggan, bagaimana berpromosi, bagaiman menyajikan sesuatu dengan baik, bagaimana menentukan harga barang, bagaimana membaca selera pasar lokal, bagaimana menghadapi stress dalam pekerjaan, bagaimana menghadapi keuntungan dan kerugian, dan terutama bagaimana tetap menjaga nilai Kristen dalam wirausaha yang mereka lakukan.

Modal untuk membangun Kafe Door tidak besar. Kami memulainya dengan hanya Rp 5.000.000,- termasuk untuk pembangunan fisik dan penyediaan barang awal. Dari keuntungan kafe, kami mulai menambah kebutuhan-kebutuhan yang lain terus menerus. Sehingga jika masalah dana menjadi masalah yang dianggap sulit dipecahkan, sebenarnya tidak juga.

Di jemaat Tunglur kami juga mengembangkan Kelas Kreatif untuk anak dan remaja. Kelas Kreatif ini berpusat untuk melatih anak-anak membuat kreativitas, mulai dari kerajinan tangan, memasak, membersihkan lingkungan gereja, menjaga kesehatan, berbagi, hingga beberapa kali membazarkan hasilnya dengan pendampingan pamong anak dan remaja sebagai latihan awal bagi anak dan remaja berlatih wirausaha. Dana untuk Kelas Kreatif kami tidak besar, karena jumlah anak dan remaja kami tidak besar. Setiap tahun kami menganggarkan Rp 600.000,- dan itu cukup untuk kelas kreatif bagi 12 anak dan remaja selama satu tahun. Karena hasil dari bazar kelas kreatif bisa dikembangkan untuk penyediaan bahan bagi kebutuhan kelas kreatif berikutnya. Di samping bahwa Kelas Kreatif juga menggunakan barang-barang yang tidak terpakai atau bahkan barang sisa pakai rumah tangga.

 

Manajemen Risiko

Salah satu yang kerap agak dikesampingkan dalam perogram kewirausahaan adalah manajemen risiko. Dua kutub yang seringkali bertentangan dan terjadi di gereja adalah terlalu takut berisiko atau terlalu berani berisiko hingga tidak mempertimbangakan SWOT (Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman). Untuk hal ini saya tidak akan menyinggung banyak. Tetapi hanya beberapa hal penting yang perlu dilakukan dalam manajemen risiko:

  1. Analisis SWOT. Banyak pola dari analisis SWOT yang bisa dilakukan, gunakan yang mungkin dilakukan di gereja. Tidak perlu yang sangat rumit, lakukan yang sederhana, tetapi benar-benar mempertimbangkan keempat aspek tersebut secara jujur. Analisis SWOT tidak bisa dibuat-buat, karena hasilnya juga akan tidak akurat. Analisis SWOT ini berguna untuk mengukur seberapa besar investasi gereja untuk kegiatan wirausaha dan sejauh apa risiko akhirnya bisa dihadapi. Pihak-pihak mana saja yang bisa dilibatkan dalam penanganan risiko baik pencegahannya maupun penanggulangannya.
  2. Pendampingan intensif. Hal-hal yang berhubungan dengan uang dan relasi dengan orang lain kerap menimbulakn konflik dan risiko perpecahan. Kedua hal tersebut kerap mendatangakan budaya ketidakpercayaan (krisis kepercayaan). Maka pendampingan intensif berguna selain untuk dalam bahasa program memonitor, juga berguna untuk kebutuhan utama penggembalaan. Pendampingan intensif ini adalah upaya untuk tetap bertahan di dalam nilai Kristiani baik dalam komitmen maupun dalam menghadapi berbagai tantangan di sekitar dunia wirausaha. Bagaimana mengelola emosi pribadi dan psikologi dalam untung ataupun rugi, serta ritme dunia wirausaha dengan segala dinamikanya adalah hal-hal penting dalam pendampingan ini. Perlu orang khusus yang memang memiliki perhatian pada kepemudaan dan kewirausahaan. Prinsipnya adalah memotivasi, sehingga pikiran, ucapan, atau perbuatan yang bisa mendemotivasi latihan kewirausahaan perlu untuk dijaga supaya jangan sampai mengemuka.
  3. Pengawasan keuangan dan pelaporan keuangan. Di GKJW Jemaat Tunglur, semua keuangan diperiksa dan dilaporkan. Baik keuangan di bendahara jemaat, komisi-komisi, pokja-pokja maupun kepanitiaan. Termasuk dalam kewirausahaan pengawasan dan pemeriksaan keuangan ini terus perlu dilakukan dengan kaidah-kaidah pengawasan keuangan dan pelaporan keuangan yang berlaku. Tidak perlu yang terlalu rumit, dilakukan sesuai dengan konteks kehidupan berjemaat dan bermasyarakat di sana. Jika latihan kewirausahaan ini tidak besar, tidak perlu hingga membuat dan memeriksa berbagai jenis neraca.
  4. Penyisihan hasil untuk pengembangan jangka panjang. Di Kafe Door dan Kelas Kreatif setiap bulan para pemuda yang berlatih wirausaha dan pamong pendamping P2A menyisihkan pendanaan mereka untuk pengembangan kafe maupun kelas. Karena angkanya belum besar, maka kami belum menyimpannya di bank. Tetapi harapannya kami pada akhirnya bisa memasukkan dana ini di bank atau koperasi untuk sekaligus melatih para pemuda terkait kehidupan perbankan dan perkoperasian. Tetapi penyisihan dana ini perlu dilakukan supaya kegiatan bisa terus berkelanjutan. Dana tersebut juga dibutuhkan jika terjadi kebutuhan sewaktu-waktu yang tidak diduga.

Saya merasa kontekstualisasi tidak sekadar melulu pada masalah nguri-uri budaya lokal adi luhung. Hal tersebut tentu saja salah satu hal penting yang perlu terus dilakukan oleh gereja. Tetapi kontekstualisasi adalah upaya untuk mendekatkan gereja dengan konteks masyarakat sehingga berita Injil bisa diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari warga jemaat. Syukur jika bahkan bisa mencapai pihak di luar gereja. Tetapi saya selalu merasa yang di dalam perlu selesai dahulu sebelum menyelesaikan yang di luar. Karena selesai di dalam adalah bagian dari menyelesaikan yang di luar.

Selain tantagan wirausaha, Indonesia punya hal-hal lain seperti pluralitas SARA, kehidupan khas negara dunia ketiga dengan kependudukan yang khas, pendidikan dan mitos, serta kehidupan ekonominya yang khas, di samping juga menjadi pasar barang bagi negara-negara Asia Timur, Eropa, dan Amerika. Saya merasa tantangan konteksualisasi gereja agar berita Injil bisa terdengar oleh dunia neliputi hal-hal tersebut juga. Menjadikan berita Injil didengar oleh orang lain bukan semata-mata usaha menjadikan orang lain menjadi Kristen, bukan juga sekadar cangkrukan lalu berita Injil dibagikan di sana. Tetapi, lebih dari itu melakukan upaya untuk benar-benar mengelola potensi gereja untuk karya Tuhan bagi dunia, hingga dunia menjadi penuh kasih dan damai sejahtera. Jalan ini panjang, tapi tidak ada kebetulan, tidak ada juga yang mustahil, apalgi jika dilakukan dengan semangat dan komitmen dalam terang kasih Tuhan.

 

Gideon H. Buono
Pendeta GKJW, melayani di GKJW Jemaat Tunglur
Foto: GKJW Jemaat Tunglur

Kata Kunci Artikel Ini: