Ekospiritualitas

SalibMenurut Kamus[1], kata spirit itu berarti: roh atau semangat; sedangkan spiritual itu berarti: berhubungan dengan kejiwaan. Maka istilah spiritualitas itu biasanya dipahami sebagai: penjiwaan atau kesungguhan. Pada kenyataannya tidak ada suatu definisi yang secara luas disepakati bersama mengenai spiritualitas ini, sebab spiritualitas itu merupakan hal yang sangat berhubungan dengan isi hati dan apa yang diyakini. Namun dalam makalah ini ada baiknya jika dipaparkan suatu definisi khusus mengenai spiritualitas itu agar didapat sebuah pemahaman yang jelas, terarah dan baku, sehingga pokok pembicaraan tidak terlalu berkembang ke mana-mana.

Spiritualitas adalah: suatu kehidupan yang dicirikan melalui bentuk kesungguhan perilaku transendensi diri –– yakni kapasitas seseorang untuk dapat melampaui diri-nya sendiri –– dalam mencapai “nilai-nilai utama”, yang hanya dapat diraih melalui pengalaman pribadi dalam bentuk hubungan antara dirinya, baik dengan Sang Adikodrati (Tuhan) maupun dengan ciptaan yang lain –– agar melalui pengalaman tersebut manusia mampu mendapatkan pengetahuan akan Allah, cinta/kasih dan kehendak-Nya, sehingga hidup yang dialami selanjutnya tak lagi terbelenggu oleh segala hal yang bersifat materi.[2]

Mengapa orang perlu mempunyai Spiritualitas?

Akhir-akhir ini, kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang –– dari berbagai kalangan –– mulai mempunyai minat yang besar terhadap spiritualitas. Doa dan kelompok-kelompok meditasi semakin berkembang pesat, pusat-pusat retreat juga mulai banyak bermunculan, bahkan berbagai tema berkenaan dengan spiritualitas ini menjadi pokok bahasan laris dalam siaran radio dan televisi serta berbagai bentuk seminar dan konferensi. Singkatnya, spiritualitas menjadi agenda penting dalam kehidupan manusia di masa kini.[3]

Lebih dari itu, spiritualitas yang dulunya hanya dikaitkan dengan kehidupan beragama, di masa kini malah telah dihubungkan dengan seluruh bidang kehidupan masyarakat, termasuk dunia usaha, pendidikan, perawatan kesehatan, seni, ekologi, dan politik. Spiritualitas ini telah menjadi sesuatu yang digunakan, bukan hanya oleh kalangan rohaniwan, namun juga oleh para dokter, psikolog, psikiater, ilmuwan politik, pebisnis, ekolog, sosiolog, aktivis hak asasi manusia, antropolog, cendekiawan, serta seniman. Beragamnya minat terhadap spiritualitas seperti ini menunjukkan betapa besarnya keinginan manusia dalam melakukan upaya transformasi, baik secara pribadi maupun sosial. Hal ini dapat terjadi demikian karena banyak orang yang akhirnya mengaitkan spiritualitas ini dengan keberadaan diri, yakni yang menyangkut nilai-nilai dan arti hidup manusia. Dengan dasar ini, maka setiap orang dapat saja membentuk spiritualitasnya sendiri, baik itu dalam wujud nihilistik, materialistis, humanistik, ataupun agamis. Sehingga sesungguhnya ada beragam jenis spiritualitas, masing-masing berkaitan dengan tradisinya secara khusus, yang mengungkapkan sendiri pandangan historis, sosiologis, teologis, linguistik dan filosofisnya.[4]

Bagi kalangan umat beragama sendiri, alasan munculnya minat yang besar terhadap spiritualitas adalah kenyataan bahwa kehidupan modern selama ini telah membuat kehidupan beragama manusia terasa hambar dan kurang bergairah atau tanpa tujuan. Banyak orang merasa bahwa kegiatan religius biasa sudah tidak mencukupi lagi. Mereka berupaya mencari suatu pengalaman yang lebih mendalam dalam berhubungan dengan Tuhan, dan suatu iman yang berakar melalui pengalaman yang benar-benar dialami sendiri.[5] Pusat dari semangat kehidupan spiritual tak lain adalah keinginan untuk memiliki pengalaman tentang Tuhan secara pribadi. Banyak orang beragama mencari kepastian mengenai kehadiran Allah yang dapat dialami secara langsung, sehingga jika pengalaman itu tak kunjung didapatkan maka hal itu membuat para pendamba kehadiran Allah menjadi kecewa. Inilah yang membuat kebanyakan orang Kristen melarikan diri dari Allah, dalam bentuk: mencari berbagai macam kesibukan termasuk di antaranya melalui kegiatan yang aktif dalam organisasi gereja.[6]

Jadi alur proses dalam mengikut Tuhan itu sesungguhnya haruslah terjadi seperti ini:

  • Iman (kepercayaan yang diperoleh baik dari pemahamannya terhadap isi Alkitab, maupun pengajaran dogmatis agamawi) →
  • Spiritualitas (proses permenungan secara afektif dan kesadaran mengenai adanya relasi antara diri, baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama ciptaan, yang kemudian menghasilkan suatu harapan dan komitmen terhadap pencapaian “nilai-nilai utama”)→
  • Teologi (upaya kognitif dalam perumusan gagasan dan konsep-konsep mengenai Tuhan dan karya kasih-Nya terhadap kehidupan)→
  • Perbuatan (pemberlakuan kasih secara nyata dalam pengalaman relasi sehari-hari, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama ciptaan)

Oleh sebab itu spiritualitas yang sejati itu seharusnya dimiliki oleh seluruh umat Kristen –– namun pada kenyataannya ternyata tidaklah demikian. Mengapa? Karena seringkali hanya sedikit orang Kristen yang mampu menyempatkan diri mereka untuk ber-retreat. Padahal hanya melalui retreat-lah seseorang akan dimampukan untuk belajar ber-spiritualitas, yakni:

  1. memahami dimanakah posisi dirinya saat ini
  2. lalu menyadari apakah nilai-nilai utama yang seharusnya diperjuangkan dalam hidup ini
  3. selanjutnya mulai berupaya mau berproses untuk melakukan sebuah transendensi diri.

Retreat adalah kegiatan ritual yang dilakukan secara pribadi maupun kelompok beragama dengan jalan menyediakan waktu –– biasanya beberapa hari, dalam kesendirian[7] dan kesucian melalui praktek permenungan[8], doa[9] dan pengakuan dosa, sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah dan mencari kehendak-Nya dalam kehidupan.

Retreat merupakan bagian integral dari banyak agama: Hindu, Budha, Sufi (Islam), dan Kristen. Maka sesungguhnya makna retreat ini ada bermacam-macam, tergantung pada pemahaman tiap komunitas agama yang berbeda-beda.

Bagi kalangan Kristen, alasan utama dari pelaksanaan retreat ini, yang membedakannya dengan kegiatan gerejawi biasa, adalah kebutuhan yang sangat berkenaan dengan hasrat manusia untuk bertemu dengan Tuhannya. Dalam demam dan pergolakan kehidupan modern, kebutuhan akan meditasi dan kedamaian spiritual, yang merefleksikan tujuan kekal, diharapkan mampu mengarahkan hidup manusia di dunia ini kembali kepada Allah.

Hubungan antara Spiritualitas dan Ekologi

Istilah ekospiritualitas, atau yang bisa disebut juga dengan spiritualitas lingkungan, sesungguhnya adalah sebuah pemahaman yang merupakan gabungan antara pokok-pokok pemikiran dari ilmu Ekologi –– suatu cabang dalam ilmu Biologi –– dan Spiritualitas. Dan ketika Ekologi ini dibicarakan dalam kaitannya dengan Spiritualitas, maka seringkali bahasan ini sangat berhubungan erat dengan masalah sikap manusia, sebab permasalahan ekologi memang umumnya terkait dengan krisis moral dalam usaha memahami ciri saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Ini menyangkut cara tentang bagaimanakah seharusnya manusia bersikap terhadap lingkungannya.[10] Munculnya pemikiran tentang ekospiritualitas ini menunjukkan adanya kesadaran dalam diri manusia bahwa selama ini telah terjadi kesalahan berkenaan dengan sikap dasar manusia terhadap lingkungan hidup.[11]

Dari definisi spiritualitas yang sebelumnya telah dibicarakan, maka sesungguhnya spiritualitas adalah suatu komponen yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia –– yang merupakan sesuatu yang subyektif, tidak berwujud, dan multidimensi. Spiritualitas melibatkan seseorang terhadap suatu pencarian akan makna hidup, untuk meraih keutuhan, kedamaian, individualitas, dan harmoni. Spiritualitas ini secara kultural dikondisikan dan diperkaya oleh keyakinan agama yang dianut.[12]

Berikutnya, karena spiritualitas merupakan komponen yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, maka spiritualitas ini juga digambarkan sebagai cara hidup manusia. Ini bukan hanya berkenaan dengan cara untuk memahami dunia, tetapi juga berkenaan dengan cara untuk berada/hidup di dunia. Dengan demikian spiritualitas dapat dilihat sebagai sesuatu yang direalisasikan, yakni suatu dimensi dari keberadaan manusia yang diaktualisasikan melalui pengalaman hidup. Maka spiritualitas tak lain berkenaan dengan bagaimana manusia itu dapat hidup, atau bagaimana manusia itu ingin hidup. Spiritualitas seperti ini dapat dinyatakan, misalnya melalui pola hidup dengan meditasi. Selain itu, juga melalui aksi sosial. Berkenaan dengan ini, spiritualitas kristiani mengambil bentuk berupa keseriusan peran manusia dalam melakukan kasih, sebagai tujuan dan hakekat hidup, yang hadir dalam wujud energi yang menghasilkan daya penciptaan. Maka ini sesungguhnya merupakan sebuah komitmen terhadap upaya pencapaian suatu transformasi, sebab hal ini merupakan paradigma spiritual yang memiliki kapasitas untuk melawan tindakan-tindakan yang menghalangi terwujudnya keutuhan dan kedamaian.[13]

Maka, spiritualitas –– yang mewujud dalam bentuk tindakan itu –– sebenarnya dimotivasi oleh gerakan hati, kontemplatif, dan terarah, dalam sebuah perjalanan hidup. Itu dapat terjadi dalam diri manusia jika seseorang mengalami perkembangan dalam proses[14] :

  • kesadaran diri;
  • pertimbangan serius terhadap akibat yang akan diterima oleh segala sesuatu –– dalam hal ini: sesama ciptaan;
  • perasaan keterkaitan antara dirinya dengan segala sesuatu secara universal.

Adanya ketiga prasyarat berkenaan dengan spiritualitas ini mengisyaratkan bahwa spiritualitas merupakan bentuk respon manusia dalam menanggapi kenyataan/konteks yang sedang dihadapi dalam hidupnya.

Kenyataan/konteks yang sedang dihadapi itu, yakni bahwa hampir setiap hari terdengar kabar tentang bencana ekologis yang terjadi di seluruh dunia, di antaranya: penipisan berbagai sumber daya, kepunahan spesies, meningkatnya polusi dan perubahan iklim, hingga ledakan populasi dan budaya konsumtif. Telah dipahami bahwa segala bentuk krisis ekologis ini sesungguhnya adalah akibat dari adanya kesalahpahaman dan penafsiran yang keliru terhadap hubungan antara manusia dengan alam, yakni dengan sesama ciptaan itu sendiri.[15] Namun, kebanyakan dari manusia mencoba untuk mengabaikan itu semua. Inilah akar sesungguhnya dari krisis ekologis, yakni: adanya penghindaran dan penolakan. Terhadap aksi penolakan itu, selanjutnya Gottlieb mengatakan bahwa: “Di dalam Tuhan, sesungguhnya kita telah menemukan sumber kekuatan untuk melawan, yakni melalui aksi cinta lingkungan, di mana melalui gerakan itu kita akan menemukan kesucian.”[16] Dengan mempertimbangkan parahnya krisis ekologi yang sedang terjadi dewasa ini, memang dibutuhkan jenis spiritualitas tertentu yang diyakini dapat memotivasi tindakan seseorang untuk melakukan suatu perbedaan.

Ketika kehancuran yang ditimbulkan oleh krisis ekologis itu semakin menjadi-jadi, maka akhirnya manusia pun terdesak untuk memeriksa kembali pemahaman mereka mengenai alam, di mana mereka berada, dan hubungan mereka dengannya. Dalam istilah Kristen, ini adalah panggilan untuk memeriksa kembali hubungan manusia baik dengan seluruh ciptaan maupun dengan Sang Pencipta. Dalam perspektif Kristen, kegiatan pemeriksaan kembali terhadap hubungan antara manusia dengan lingkungannya semacam ini berlangsung dalam konteks ekoteologi dan etika lingkungan, yang pada gilirannya berakar pada tujuan dan hakekat hidup, khususnya tujuan dan hakekat Penciptaan.[17]

Ketika tujuan dan hakekat hidup, khususnya tujuan dan hakekat Penciptaan, itu mulai dipahami, maka berarti manusia mulai menemukan “nilai-nilai utama”, yang seharusnya diraih melalui pengalaman pribadi dalam bentuk hubungan antara dirinya, baik dengan Sang Adikodrati (Tuhan) maupun dengan ciptaan yang lain.

Berkenaan dengan “nilai-nilai utama” yang hendak dicapai melalui pengalaman hidup manusiawi itu –– yang tak lain merupakan tujuan dan hakekat Penciptaan –– maka ketiga prasyarat dari perjalanan spiritual, seperti yang telah diuraikan di atas, itu kemudian digunakan untuk mengeksplorasi suatu bentuk spiritualitas yang disebut dengan ekospiritualitas –– yakni: sebuah spiritualitas yang memotivasi kepedulian terhadap lingkungan.[18]


 

  1. Diintisarikan berdasarkan:Elizabeth Walter [ed.], Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Third Edition, Cambridge: Cambridge University Press, 2008.Antony Lewis, WordWeb version 7.x, Princeton University, 2014, diunduh melalui http://wordweb.info/free/licence5.html.Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan, KBBI Offline v. 1.4, diunduh melalui http://ebsoft.web.id.
  2. Budi Cahyono, Ekospiritualitas Kristiani Berdasarkan Karya Teologis CL Coolen dan Fransiskus Assisi, Yogyakarta (tidak diterbitkan), 2014, p. 2-11.
  3. Celia Kourie, The “Turn” To Spirituality, dalam : Acta Theologica Supplementum 8, 2006, p. 19-38, diunduh melalui www.globethics.net, pada 1 September 2012, p. 21.
  4. Celia Kourie, The “Turn” To Spirituality, dalam : Acta Theologica Supplementum 8, 2006, p. 19-38, diunduh melalui www.globethics.net, pada 1 September 2012, p. 19.
  5. Howard L. Rice, Reformed Spirituality : An Introduction for Believers, Louisville: Westminster/John Knox Press, 1991, p. 7-8.
  6. Howard L. Rice, Reformed Spirituality : An Introduction for Believers, Louisville: Westminster/John Knox Press, 1991, p. 21-23.
  7. Menarik diri dari dunia : yakni dalam beberapa saat meninggalkan segala kesibukan kerja, berbagai bentuk permasalah hidup, dan berbagai keterikatan dalam hubungan-hubungan sosial. Yang dituju hanyalah: betul-betul dalam “kesendirian”. (lih. Matius 6:6 dan I Korintus 7:5).
  8. Permenungan ini berbeda dengan perenungan. Kalau perenungan adalah aktifitas memikirkan sesuatu, yang pada akhirnya menghasilkan buah pikiran. Namun, permenungan yaitu upaya mengosongkan diri (kenosis), yakni: suatu aktifitas berdiam diri dan mengosongkan diri dari segala kehendak diri sendiri, agar selanjutnya dengan sepenuhnya mampu menerima kehendak ilahi (Filipi 2:5-7). Dan ketika seseorang sepenuhnya telah mampu menerima kehendak ilahi, maka selanjutnya ia diharapkan dapat menjadi “serupa dengan Kristus” (Roma 8:29 dan II Korintus 3:18). Jadi ini juga berbeda dengan mengosongkan pikiran atau tidak memikirkan sesuatu, sebab masih ada yang dipikirkan, yakni terpusat hanya kepada Allah. Oleh sebab itu KBBI menghubungkan aktifitas permenungan ini dengan meditasi/semadi.
  9. Bagi kebanyakan orang Protestan, doa biasanya dipahami sebagai: suatu komunikasi antara manusia dengan Allah, juga nafas hidup orang percaya. Namun seringkali tak jelas, apakah komunikasi itu bersifat monolog, ataukah dialog, mengingat bahwa komunikasi baru dimungkinkan terjadi bila telah ada perjumpaan. Begitu halnya dengan nafas hidup orang percaya: ini berkenaan dengan intensitas doa, ataukah berkenaan dengan makna doa bagi kehidupan iman. Memang kalaupun diyakini sebagai keduanya, baik intensitas sekaligus maknanya, tetaplah belum jelas: bentuk doa yang bagaimana. Sebab ketika doa hanya dipertahankan dalam intensitasnya, dalam rutinitasnya, maka doa itu seringkali akan kehilangan maknanya. Maka, dalam hubungannya dengan retreat ini, terutama dalam hubungannya dengan praktek permenungan, sebaiknya doa dipahami sebagai: “upaya mengangkat jiwa naik menuju kepada Allah”. Dan dalam upaya untuk mengangkat jiwa naik menuju kepada Allah ini, maka doa dimaksudkan sebagai sarana untuk bersekutu dengan Allah. Yang dilakukan dalam persekutuan dengan Allah itu tak lain ada 4 hal: memuliakan Allah, mengucap syukur (atas hidup), memohon pengampunan (terhadap dosa), dan juga memohon anugerah (bukan memohon sesuatu yang bersifat materi). Maka dalam persekutuan inilah terjadi komunikasi, yang pasti bersifat dialogis, yakni menyatu dengan kehendak Allah, agar anugerah yang diminta itu mampu dipahami. Jadi doa yang dimaksud di sini inipun sesungguhnya merupakan sebuah permenungan. (lih. Dom Vitalts Lehodey, The Ways of Mental Prayer, Dublin: M. H. Gill & Son Ltd., 1960, p. 1-3).
  10. William Chang, 2001, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, p. 31.
  11. William Chang, 2001, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, p. 31-32.
  12. Susan Baker and Robin Morrison, Environmental Spirituality: Grounding Our Response To Climate Change, dalam: European Journal of Science and Theology, UK : June 2008, Vol.4, No.2, p. 40.
  13. Susan Baker and Robin Morrison, Environmental Spirituality: Grounding Our Response To Climate Change, dalam: European Journal of Science and Theology, UK : June 2008, Vol.4, No.2, p. 41.
  14. Susan Baker and Robin Morrison, Environmental Spirituality: Grounding Our Response To Climate Change, dalam: European Journal of Science and Theology, UK : June 2008, Vol.4, No.2, p. 41.
  15. Susan Baker and Robin Morrison, Environmental Spirituality: Grounding Our Response To Climate Change, dalam: European Journal of Science and Theology, UK : June 2008, Vol.4, No.2, p. 36.
  16. Roger S. Gottlieb, Religion and the Environment, dalam : J. Hinnells [ed.], Routledge Companion to Religion, Routledge, 2009, p. 502.
  17. Susan Baker and Robin Morrison, Environmental Spirituality: Grounding Our Response To Climate Change, dalam: European Journal of Science and Theology, UK : June 2008, Vol.4, No.2, p. 36.
  18. Susan Baker and Robin Morrison, Environmental Spirituality: Grounding Our Response To Climate Change, dalam: European Journal of Science and Theology, UK : June 2008, Vol.4, No.2, p. 41-50.

Kata Kunci Artikel Ini: